Materi Ilmu Sosial dan Humaniora

Monday, 30 July 2018

Aplikasi Administrasi Publik



Dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada dibutuhkan suatu sikap yang tepat dalam mengambil keputusan dan kebijakan, sehingga keputusan dan kebijakan yang diambil tersebut tidak menimbulkan berbagai permasalahan baru. Seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil tentunya memerlukan suatu analisis yang sangat jeli, dengan menggunakan berbagai pendekatan dan model yang sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan. Agar keputusan dan kebijakan yang diambil sesuai dengan permasalahan yang ada, maka pengambil keputusan dan kebijakan harus mengerti serta memahami berbagai model dan pendekatan yang tepat, dan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan suatu kebijakan.

Salah satu tahapan penting dalam siklus kebijakan administrasi publik adalah aplikasi kebijakan. Dalam paraktek pelaksanaan administrasi, aplikasi dalam konteks ini hanya dianggap sebagai implementasi dari keputusan oleh para pengambil keputusan, seolah-olah tahapan ini kurang berpengaruh. Akan tetapi dalam realitasnya, tahapan aplikasi menjadi sangat penting, hal ini disebabkan karena suatu kebijakan tidak akan bernilai apa-apa apabila tidak dapat dijalankan secara baik dan benar. Dengan kata lain, aplikasi adalah suatu proses tahapan, dimana suatu keputusan dan kebijakan dilaksanakan secara baik dan maksimal agar dapat mencapai tujuan kebijakan itu sendiri.

Kebijakan merupakan istilah yang mempunyai arti beragam, yakni sebagai label bagi suatu bidang kegiatan seperti kebijakan ekonomi, industri, ketertiban, dan hukum. (Hogwood & Gun dalam Keban, 2014). Kebijakan dituangkan dalam bebagai macam peraturan sehingga kajian kebijakan pada hakekatnya merupakan kajian terhadap peraturan perundang-undangan.

Terdapat beberapa konsep terkait dengan aplikasi kebijakan administrasi publik yang dikemukakan oleh beberapa ahli, Webster dalam Rusdin Nawi (2016) mengemukakan beberapa pengertian terkait dengan aplikasi, diantaranya adalah “menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu” pengertian yang lain yakni “untuk menimbulkan dampak terhadap sesuatu”. Dalam istilah lain, aplikasi tersebut dapat diartikan sebagai proses kegiatan yang dilakukan, baik oleh perorangan, antara pejabat, atau antara kelompok pemerintah maupun swasta yang dimaksudkan pada tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan dan kebijakan.

Referensi :
Keban, Yeremias, T. 2004. Enam Dimensi Strategi Administrasi Publik Konsep, Teori dan Isu, Penerbit Gaya Media, Yogyakarta.
Nawi H. Rusdin. 2016. Teori Model Realitas Kontemporer Ilmu Administrasi Publik. PT. Umitoha Ukhuwah Grafika. 2016

Pengertian Ilmu Politik

Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari politik atau kepolitikan. Politik merupakan usaha menggapai kehidupan yang baik. Oleh karena itu, politik sangat penting dalam mengatur tatanan kehidupan masyarakat  dengan baik karena pada dasarnya, masyarakat sering menghadapi keterbatasan sumber daya alam, oleh karenanya perlu dicari suatu cara dalam proses distribusi sumber daya agar semua warga merasa bahagia dan tenteram.

Tujuan yang mulia tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara, yang kadang-kadang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, seluruh pengamat sependapat bahwa tujuan tersebut hanya bisa tercapai apabila mempunyai kekuasaan disuatu wilayah tertentu. Kekuasaan tersebut perlu dijabarkan dalam keputusan mengenai kebijakan yang akan menentukan pembagian atau alokasi dari sumber daya yang ada.

Oleh karena itu, dalam suatu Negara politik memiliki kaitan yang sangat erat dengan berbagai permasalahan yang timbul akibat  kekuasaan, mulai dari proses pengambilan keputusan, kebijakan publik, bahkan pada tataran alokasi atau distribusi. Apabila ilmu politik dianggap mempelajari politik, maka diperluan pembahasan tentang istilah politik itu sendiri. Pemikiran terhadap politik di dunia barat banyak dipengaruhi oleh filsuf yunani kuno abad ke-5 S.M. Plato dan Aristoteles menganggap politik sebagai suatu usaha untuk mencapai msyarakat politik yang terbaik. Di dalam konteks politik yang seperti ini, manusia akan hidup tenteram, bahagia dan sejahtera karena memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan, beradaptasi secara akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi.

Definisi tentang politik yang sangat normatif tersebut telah tergeser oleh definisi lain yang lebih menitikberatkan pada upaya dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang baik, seperti kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, alokasi nilai dan sebagainya. Akan tetapi, pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya. Peter Merkl menyebutkan bahwa politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha untuk mencapai suatu tatanan social yang baik dan berkeadilan, betapa samar-samar pun tetap hadir sebagai latar belakang serta tujuan kegiatan politik. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa persepsi mengenai baik dan adil dipengaruhi oleh nilai-nilai serta ideology masing-masing dan zaman yang bersangkutan.

Pada umumnya, politik adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kea rah kehidupan bersama yang harmonis. Usaha ini berkaitan dengan berbagai macam aktifitas sosial diantaranya yakni pada proses penentuan tujuan dari sistem yang ada, serta berbagai metode yang digunakan untuk melaksanakan tujuan tersebut.

Referensi : Budiarto, Miriam. 2010, dasar-dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.


Sunday, 29 July 2018

Konsep Administrasi Publik



Administrasi publik merupakan kajian untuk memahami hubungan antara pemerintah dengan publik, dan untuk meningkatkan responsibilitas kebijakan terhadap berbagai kebutuhan publik, serta melambangkan praktik manajerial agar terbiasa melakukan suatu kegiatan dengan efektif, efesien dan rasional.

Dimick dalam rusdin nawi (2016) mengemukakan bahwa administrasi berasal dari kata “ad” dan “minister” yang berarti juga “to serve”. Sehingga dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan administrasi adalah suatu proses pelayanan atau pengaturan. Dalam hal ini, yang menjadi objek administrasi adalah manusia, karena manusia merupakan sumber administrasi.

Chandler dan Plano dalam Rusdin Nawi (2016) menjelaskan bahwa administrasi adalah suatu proses mengorganisir dan mengkoordinasikan sumberdaya dan personal publik untuk memformulasikan, mengimplementasikan dan mengelola suatu keputusan dalam evaluasi suatu kebijakan publik. selain itu, administrasi publik merupakan seni dan ilmu yang ditujukan untuk mengatur dan melaksanakan tugas yang telah ditetapkan.

Inti dari aktifitas administrasi adalah pelayanan, atas dasar itulah sehingga diperlukan pemahaman yang mendalam tentang teori dan konsep administrasi publik. Menjadi penting dalam memahami pelayanan publik, apabila telah memahami arti penting administrasi sebagai seni dan ilmu dalam menemukan alat yang dijadikan ukuran standar pencapaian tujuan.

Prespektif lain juga memandang administrasi adalah ilmu tentang perubahan arah kebijakan dan pelayanan dengan mengeksplorasi keahlian birokrasi untuk melakukan perubahan, koreksi dan perbaikan kebijakan dan layanan. Hal ini mengindikasikan bahwa ilmu administrasi tidak terlepas dari kebijakan dan pelayanan dalam melakukan perubahan kreksi dan perbaikankebijakan yang diberikanpleh pemerintah kepada publik.

Ilmu administrasi pada intinya adalah alat pelayanan untuk mencapai tujuan. Teori instrumental menjelaskan bahwa ilmu administrasi merupakan instrument sebagai konseptualisasi mengenai cara untuk memperbaiki pelayanan publik dan memuaskan pengguna administrasi. Hal ini berarti bahwa ilmu administrasi sebagai instrument untuk menghasilkan sebuah tindakan layanan dalam rangka keberpihakan dan pemuasan kepentingan publik.

Referensi :

Nawi, H. Rusdin, 2016, Teori dan Model Realitas Kontemporer Ilmu Administrasi Publik. PT. Umitoha Ukhuwah Grafika. Makassar

Proses Komunikasi dan Batas Organisasi (Telaah Komunikasi Organisasi)

Secara tradisional, aliran informasi dipelajari dalam suatu organisasi tunggal, dan batas-batas jaringannya tidak diperluas sampai melewati keanggotaan organisasi. Cushman dan King dalam R. Wayne Pace (2013) memberikan pandangan bahwa pasar teknologi tinggi akan selalu melahirkan suatu sistem yang baru tentang manajemen atau yang sering disebut dengan manajemen kecepatan tinggi, yang mencetuskan suatu revolusi dalam komunikasi organisasi. Ekonomi bersaing dan perubahan globalnya akan selalu menuntut organisasi untuk menggunakan praktik-praktik yang menjamin kebutuhan analisis yang cepat, dan respon atau penyesuaian yang cepat pula. Komputer dan telekomunikasi memungkinkan produksi, pemasaran, dan teknologi manajemen baru. Masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana dapat memberikan respon terhadap perubahan cepat dalam lingkungan tersebut. Harus ada pengamatan lingkungan informasi yang cermat dan tepat, serta penyesuaian yang cepat dan koordinasi sistem.

Russel, Adams, dan Boundy (1986) menunjukkan tentang adanya dampak dari teknologi baru pada aliran informasi, hal ini dapat dilihat pada wilayah pemasaran, perusahaan dapat mengamati lingkungannya dengan cermat sehingga dapat menentukan minat terhadap rasa suatu produk baru. Kemudian mereka merancang isi produk tersebut, mendorong produksi, dan menilai potensi biaya produksi, dan keuntungan dari  hasil penjualan.

Melalui pengembangan suatu sistem intelegensia buatan, perusahaan tersebut dapat mengendalikan kecepatan dan kualitas produksi. Manajemen dapat melakukan pra uji nama produk, menguji rak penempatannya, dan jenis serta iklannya. Perusahaan juga dapat melakukan uji pasar. Keputusan manajemen yang dulu memerlukan waktu satu tahun, kini hanya memerlukan dua atau tiga hari.

Manajemen berkecepatan tinggi memberi implikasi yang nyata pada peranan komunikasi pada pencarian keuntungan yang bersaing. Dalam istilah penelitian aliran informasi, batas-batas organisasi harus diperluas agar dapat meliputi lingkungan yang lebih besar. Apabila suatu organisasi dipahami sebagai jaringan hubungan-hubungan yang saling bergantung, maka teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah apa yang selama ini dianggap sebagai organisasi. Apabila jaringan mengikat berbagai bagian ekonomi global bersama-sama dan bila ekonomi memaksa berbagai persekutuan, maka hal ini akan menjadikan posisi organisasi, aliran informasi, bagian yang paling penting dan siapa yang mengakses kedalam jaringan tersebut akan menjadi tidak jelas.

Sumber Referensi : R. Wayne Pace & Don F. Faules, Komunikasi Organisasi. Editor: Deddy Mulyana, 2013.


Komunikasi sebagai suatu Mekanisme Kekuasaan

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu alat untuk menerapkan gagasan kekuasaan tradisional. Persepsi dan penafsiran atas lingkungan bergantung pada komunikasi. Dalam pengertian yang objektif, apa yang diketahui manusia tentang dunia nyata datang kepada mereka melalui suatu filter realitas sosial. Filter ini terdiri dari dunia simbolik bersama mengenai keyakinan, pengalaman dan pemahaman yang ditumbuhkan dan dipertahankan melalui komunikasi. Jadi, siapa saja yang mampu menyimpan, menyediakan, atau mengubah informasi mempunyai kekausaan penting.

Suatu pandangan yang lebih subjektif menyatakan bahwa komunikasi berbuat lebih banyak dari sekedar menggambarkan dunia, komunikasi adalah dunia ini. Mengendalikan komunikasi dalah memutuskan apakah dunia ini dan bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Mereka yang dapat memutuskan apa makna sesuatu, memiliki kekuasaan.

Kebebasan yang dimiliki manusia dalam hal keyakinan dan tindakan sangat bergantung pada komunikasi bersama dan yang disahkan. Organisasi dipertahankan secara bersama oleh suatu sistem lambang yang susunannya dilahirkan lambang dan ditopang lambang seperti ikan mempertahankan dirinya dengan berenang di dalam air. Manusia tidak selalu menyadari kebergantungan mereka yang besar pada lambang-lambang itu dan kendali yang dilakukan oleh lambang tersebut. Berger dan Lukman dalam R. Wayne Pace (2013) menyatakan bahwa struktur sosial bergerak dari apa yang dilakukan sampai dengan cara yang sebenarnya yang harus dilakukan.

Oleh karena itu, komunikasi adalah kekuasaan karena kemampuannya untuk menentukan hasil hasil pengetahuan, keyakinan dan tindakan. Manusia bertindak berdasarkan pada informasi yang ada, alternatifnya dan pilihan-pilihan yang disediakan oleh informasi tersebut. Organisasi dapat memiliki larangan eksplisit sekaligus larangan inplisit terhadap gagasan tertentu. Orang yang mungkin tidak dapat mencari gagasan alternatif, dan kemampuan untuk menghasilkan gagasan alternatif mungkin sangat terbatas. Kekuasaan digunakan melalui organisasi mengizinkan anggotanya berperan serta dalam pembuatan keputusan tetapi juga mengemukakan kriteria yang harus dipenuhi oleh  setiap keputusan.

Hubungan-hubungan kekuasaan hadir ditingkat individu dengan endividu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan organisasi dalam lingkungan organisasi. Kita tidak dapat mengabaikan tingkat analisis terhadap hubungan antara organisasi dengan organisasi, dan organisasi dengan lingkungan. Meskipun wacana tersebut mungkin berisi komponen-komponen bersama yang melintasi tingkat-tingkat tersebut, setiap hubungan juga memiliki wacana khusus.

Sumber Referensi : R. Wayne Pace & Don F. Faules, Komunikasi Organisasi. Editor: Deddy Mulyana, 2013.



Dinamika Komunikasi Organisasi

Gagasan komunikasi yang lebih tradisional terpusat pada konsep transmisi dan alat, dalam kaitannya dengan transmisi, Carey dalam R. Wayne Pace (2013) mengemukakan bahwa komunikasi didefinisikan ke dalam konteks proses pengiriman gagasan, penyebaran pesan, dan pemberian informasi kepada orang lain untuk tujuan pengendalian. Selanjutnya, ia mengembangkan suatu pandangan ritual terhadap komunikasi yang dikaitkan dengan istilah tersebut dengan pembagian, partisipasi, dan asosiasi.

Penekanan pandangan ritual adalah pada penyajian tingkat keyakinan bersama dan konstruksi dunia kultural yang bermakna. Bagi Carey, organisasi tidak hanya hadir oleh komunikasi, akan tetapi, organisasi hadir di dalam komunikasi.

Gagasan serupa juga dikemukakan oleh Pearce (1989), yang menunjukkan bahwa komunikasi dipandang sebagai instrumen yang dipakai manusia untuk mencapai maksud-maksud tertentu, seperti halnya memberi perintah, membujuk, atau memperoleh kekuasaan. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka komunikasi adalah suatu sarana pikiran, suatu alat yang digunakan untuk melakukan sesuatu.

Pemikiran Pearce tersebut berusaha mengemukakan suatu pandangan yang berlawanan, yang memandang bahwa komunikasi sebagai suatu proses yang digunakan untuk berpikir. Realitas sendiri berada dalam bahasa. Pernyataan yang tegas ini berpendapat bahwa organisasi tidak hanya hadir oleh komunikasi, tetapi hadir dalam komunikasi. Kedua gaagsan yang berlawanan tersebut sangat penting bagi pemahaman komunikasi organisasi dan kekuasaan.

Sumber Referensi : R. Wayne Pace & Don F. Faules, Komunikasi Organisasi. Editor: Deddy Mulyana, 2013.


Saturday, 28 July 2018

Klasifikasi Komunikasi Interpersonal



Terdapat berbagai macam istilah dalam komunikasi interpersonal, diantaranya yakni komunikasi dialog, diadik, wawancara, percakapan, dan komunikasi tatap muka. Dalam kaiatannya dengan hal ini, Arni Muhammad (2011) mengemukakan pandangan Redding yang telah mengembangkan  klasifikasi komunikasi interpersonal ke dalam empat model interaksi, diantaranya (1) interaksi intim, (2) percakapan sosial, (3) interogasi atau pemeriksaan dan (4) wawancara.

Interaksi Intim, merupakan komunikasi yang dilakukan dengan teman baik, pasangan yang sudah menikah, anggota keluarga, dan orang-orang yang mempunyai ikatan emosional yang kuat. Kekuatan dari hubungan sangat menetukan iklim interaksi yang terjadi.

Percakapan social, adalah interaksi untuk menyenagkan seseorang secara sederhana dengan sedikit bicara. Percakapan biasanya tidak begitu terlibat secara mendalam. Tipe komunikasi tatap muka sangat penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Apabila beberap individu secara bersama berbicara tentang perhatian, minat diluar organisasi seperti keluarga, sport, isu politik, ini adalah merupakan contoh percakapan social.

Interogasi atau Pemeriksaan, merupakan suatu proses interaksi  yang dilakukan antara seseorang yang berada di bawah kontrol,  untuk meminta atau bahkan menuntuk informasi tertentu terkait dengan kejadian atau peristiwa yang telah terjadi.

Wawancara, wawancara merupakan satu bentuk dari komunikasi interpersonal, yang melibatkan dua orang dalam suatu perbincangan yang berupa Tanya jawab. Satu orang diantaranya mengajukan suatu pertanyaan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dan yang lainnya mendengarkan secara baik dan seksama untuk selanjutnya memberikan jawaban yang dikehendaki sampai tujuan wawancara tercapai.

Referensi : Muhammad, Arni. 2011. Komunikasi Organisasi, PT. Bumi Aksara. Jakarta

Popular Posts

Followers