Jika komunikasi politik diposisikan
pada telaah kritis ranah ilmu komunikasi, dalam hal ini komunikasi teknis,
komunikasi terapan dan teori komunikasi, maka pada tingkat teknis komunikasi
politik menyangkut kiat komunikasi yang spesifik, misalnya cara
melepaskanisu-isu, membuat pesan yang menimbulkan keresahan, memanipulasi
informasi dari kaca mata tangkapan kamera, atau penampilan gambar yang memberi kesan
pengikut kampanye yang sepi. Cara seperti
ini biasanya berkembang dari lapangan kemudian didesain sedemikian rupa. Akan tetapi
penggunaannya lebih tergantung pada keterampilan, naluri, kejelian, dan
improvisasi dari pelaku dengan berbagai ragam variasi.
Dalam konteks terapan,
komunikasi politik dikembangkan melalui teori dan penelitian, selanjutnya setelah
diuji coba, teori dan hasil penelitian tersebut diterapkan dalam aktivitas dan kegiatan.
Ruang lingkup komunikasi terapan ini lebih luas, dan menyangkut penerapan beragam
teori. Misalnya untuk evaluasi efektivitas komunikasi politik menggunakan
analisis isi, pemilihan khalayak sebagai target sasaran yang paling peka, dan
desain komunikasi yang paling berpontensi untuk memengaruhi, menggunakan teori
persuasi dan penelitian sebagai penentuan strategi propaganda dalam aktivitas kampanye,
dan sebagainya.
Pada tingkat teoritis,
komunikasi politik menguji keabsahan teori komunikasi dalam konteks politik. Beberapa
teori yang sering digunakan antara lain teori kepemimpinan pendapat, teori keperkasaan
dan keterbatasan media, teori difusi inovasi, berbagai factor yang memengaruhi
komunikasi, penggunaan metode jaringan yang berkaitan dengan koneksi politik
dan kekuasaan.
Referensi :
Cangara,
H. Hafied. 2014. Komunikasi Politik
(Konsep, Teori dan Strategi). PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
0 comments:
Post a Comment