Persoalan tentang
dampak kekuatan media menjadi
hal yang sering diperdebatkan, hal
ini dilihat dari
beberapa perbedaan pendapat tentang definisi nya. Terdapat
kesepakatan, bagi sebagian besar para ahli bahwa media massa, memiliki
beberapa dampak pada berbagai dimensi kehidupan sosial dan struktur. Tetapi, seperti
yang diungkapkan McGuire (1986), dampaknya
terlihat cukup kecil, mengingat jumlah waktu,
uang, dan energi yang dikhususkan
untuk memproduksi dan mengkonsumsi
konten media. Melalui meta analisis,
teknik statistik yang
menggabungkan perhitungan kuantitatif dari sebuah hasil
penelitian untuk menguji
efek dan untuk mengestimasi ukuran
efek, membuktikan bahwa pengaruhnya kecil
pada konten media, di mana pada beberapa wilayah umumnya yang diteliti
adalah efek media massa.
Hogben’s (1998)
pada meta analisisnya
ditemukan hubungan pada keagresifitas penonton televisi dengan hubungan (d=.21). Efek televisi mengenai persepsi peran jenis kelamin juga telah
dipisahkan: r=.101, r2 =.01, Untuk studi
nonexperimental, dan r=.207, r =.04,
untuk experiment (Herrett-Skjellum & Allen, 1996). Efek pornografi
pada perilaku pemerkosaan-dipercayai sedikit
lebih kecil r=.146 (r2 =.021).
untuk percobaan pada laboratorium tersebut dan r=.018 (r2 =.0003), untuk
survey (Allen, Emmers, Gebhardt, & Giery, 1995).
Analisis ini menunjukkan bahwa, meskipun dampak media adalah signifikan, hal
ini tidak lah sangat besar.
Variansi dijelaskan oleh media massa masih memiliki
paparan yang cukup kecil.
Tapi apakah efek ini sepele?
Hearold (1986) memberikan konteks
untuk menginterpretasikan ukuran ini.
Meta analyses ini menemukan berbagai ukuran dampak lainnya: seperti masalah
gender yang cukup tinggi, d=1.20, kemapuan membaca pada anak sekolah dasar d=1.00,
terapi kejiwaan d=.85, bimbingan
belajar pada kemampuan matematika, d=.60,terapi pada psikotik d=.40 dan pengajaran
berbasis komputer pada kemampuan matematika d=.402.
Menurut Cohen
(1988) klasifikasi ukuran dampak, sebagian
besar pengaruh media massa akan dianggap kecil (r=.10, d=.20),
atau sedang (r=.30, d=.50)
namun jarang yang besar (r=.50, d=.80). Tapi ada cara lain untuk
mempertimbangkan ukuran pengaruh yang biasa disebut dengan The binomial effect
size display (BSED).
Rosenthal dan Rubin (1982) mengembangkan
cara untuk menerjemahkan berbagai ukuran
dampak ke dalam istilah yang dapat
dipahami oleh orang awam yang
tidak terlatih dalam
statistik. BESD menyarankan r yang ditafsirkan sebagai ukuran perbedaan antara kontrol dan kelompok perlakuan. Sehingga,
jika kita bisa menemukan sekelompok orang-orang yang belum pernah
menonton televisi, dan menunjukkan kepada
mereka program televisi yang mengandung kekerasan, mereka
akan 37% lebih agresif
(sebagaimana yang dijelaskan Paik & estimasi tahun 1994 Comstock) dari
kelompok sebanding yang tidak pernah melihat program tersebut.
Menggunakan metode yang
sama, Hogben (1998) memperkirakan bahwa penghapusan program yang mengandung kekerasan dalam televisi akan mengurangi
penampil agresi sebesar 10%. Herrett-Skjellumm dan Allen (1996) juga
menunjukkan bahwa dampak media massa mungkin sangat kuat untuk pengguna
media. Mereka berpendapat
bahwa pemirsa terberat televisi, dibandingkan dengan pemirsa ringan,
hampir dua kali lebih mungkin untuk memiliki sikap seksis.
0 comments:
Post a Comment