Simmel (1903) memberikan defenisi asosiasi dan disosiasi sebagai berikut : Asosiasi : individu berkumpul sebagai kesatuan kelompok, sedangkan Disosiasi : individu saling bermusuhan dalam satu
kelompok
Liberalisme klasik dan Ketidakpuasan
Awal lahirnya
teori ini adalah penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuan komunikasi pada
abad ke 20-an, yang dipusatkan di negara-negara bagian amerika. Karena disanalah
banyak terjadi benturan-benturan budaya yang menyebabkan terjadinya perilaku
disosiatif antara kelompok.hal ini dikemukakan oleh Rorty, (1998). Berlanjutnya perselisihan seputar masalah etnis dapat ditelusuri ke
dalam dilema liberalisme klasik, yang ditandai dengan Deklarasi Kemerdekaan,
Konstitusi, yang menghasilkan RUU tentang Hak, cita-cita liberalisme klasik
merupakan inti dari etos tradisional Amerika. potensi masalah antaretnis adalah substansial jumlah perhatian yang telah diterima oleh para ilmuwan sosial sejak awal Abad ke-20 (Simmel, 1908/1950; Schuetz, 1944).
Yang banyak
mempengaruhi dalam kajian ini adalah analisis individu secara psikologis Yang kemudian ada beberapa faktor psikologis yang paling sering
diteliti oleh para ilmuan:
faktor kognitif,
seperti etnis atau interetnis atau persepsi, kepercayaan, ras,
pengetahuan/ketidaktahuan, stereotip,
dan atribusi kesalahan (, Detweiler,
1986),
Sikap Afektif
motivasi, faktor seperti sikap terhadap
kelompok etnis tertentu, toleransi, prasangka, etnosentrisme, dan
rasisme (Bonilla-Silva & Forman,
2000),
Berbagai aspek
etnis identitas, termasuk tingkat
komitment suku dalam menciptakan rasa aman atau tidak aman, dan posisi perasaan
positive atau negatif terhadap etnis
kelompok, (Jacobs, 1992);
Perilaku verbal
dan non verbal dalam pertemuan antaretnis (Greenberg, Kirkland, &
Pyszczynski, 1988);
Persahabatan antaretnis
dan hubungan romantis (Mack et al., 1997)
setiap aktivitas komunikasi
antaretnis disusun sebagai suatu sistem
terbuka yang terdiri dari subsistem
(atau elemen) yang fungsional saling tergantung. (Bertalanffy, 1955/1975, Ford &
Lerner, 1992),
Beberapa Asumsi
dalam kajian ini antara lain : Asumsi 1. Komunikasi
antaretnis terjadi ketika komunikator melihat dirinya sendiri dan pihak lain,
masing-masing terlibat di dalam identitas etnis. Asumsi 2. Komunikasi
antaretnis adalah sistem terbuka di mana komponennya secara fungsional saling
tergantung.
Asumsi 3. komunikasi Antaretnis dengan komunikator
tunggal terdiri dari tiga konteks lapisan perilaku (Atau tindakan) :
komunikator, situasi, dan lingkungan.
Perilaku Disosiatif
terjadi karena : Perbedaan, Perbedaan dibuat antara
anggota-anggota dalam kelompok ("kami") dan anggota-anggota kelompok
lain ("mereka"), menyebabkan kecenderungan untuk menunjukkan
perbedaan ataupun menunjukkan kesamaan (Oddou & Mendenhal, 1984).
Atribusi,
jenis kesalahan
atribusi nasional atau Bias sehubungan dengan kelompok yang berbeda cenderung
mendorong pandangan bermusuhan terhadap kelompok yang lain dan harapan negatif
untuk perilaku anggota kelompok lain (Hewstone (1988) ).
Perilaku dan Ucapan, (Lukens, 1979), dari nada suara tegang, jarak fisik,
menghindari kontak mata, dan ekspresi wajah beku, dengan lebih ekspresi
nonverbal eksplisit dan tindakan kemarahan, kebencian, dan agresi seperti
meludah, menyeberangi pembakaran, pembakaran bendera, dan kerusuhan, untuk
tindakan ekstrim kekerasan. Interaksi disosiatif terjadi karena adanya
persaingan, pertentangan dan kontravensi.
Perilaku Asosiatif
terjadi karena munculnya faham universalisme yang menganggap bahwa semua
manusia pada hakekatnya adalah sama, memiliki hak dan tanggung jawab yang sama.
Beberapa perilaku asosiatif adalah: 1. Kerjasama, yaitu proses
saling mendekati dan bekerja sama antarindividu, antara individu dan kelompok,
atau antarkelompok, dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan
bersama.
2. Akomodasi yaitu usaha-usaha
manusia untuk meredakan suatu pertentangan. 3. Asimilasi yaitu Proses penyesuaian sifat-sifat asli yang dimiliki
dengan sifat-sifat lingkungan sekitar. 4. Akulturasi yaitu Perpaduan unsur unsur kebudayaan yang berbeda dan
membentuk suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaannya
yang asli.
0 comments:
Post a Comment