Materi Ilmu Sosial dan Humaniora

Monday, 24 March 2014

TEORI ORGANISASI DAN KOMUNIKASI


Organisasi modern harus dilihat sebagai sistem penghasil pesan yang memiliki beberapa motivasi pendorong untuk mengarahkan komunikasi organisasi. Orang berkomunikasi dikarenakan mereka ingin mencapai beberapa tujuan. Terdapat Beberapa aktifitas komunikasi organisasi telah digarisbawahi . Salah Satu klasifikasinya terdiri dari tiga hal yaitu : Ekstetrnal Operasiional, Personal dan Unternal Operasional.

Dalam komunikasi organisasi memiliki beberapa konsekuensi atau dampak yang bisa terjadi karena kesalahan komunikasi yang terbangun maupun efek positif dari komunikasi tersebut diantaranya Dampak  dari setiap komunikasi tertentu tergantung pada harapan yang sudah ada sebelumnya dan motif dari orang-orang berkomunikasi, Dampak  komunikasi manajer dengan karyawan tergantung pada hubungan antara mereka dan pada seberapa memadai hubungan ini memenuhi kebutuhan karyawan, komunikasi tertentu sangat tergantung pada perasaan sebelum dan sikap komunikator miliki terhadap satu sama lain, dan pengaruh komunikasi manajer dengan karyawan tergantung pada besarnya dukungan yang diterima oleh karyawan melalui keanggotaan pada kelompok tersebut.

Terdapat tiga dasar teori organisasi dan dampaknya terhadap komunikasi dapat diurutkan sebagai berikut : 1). Pemikiran Klasik (1910-1929), model teori dalam pemikiran klasik ini adalah model komunikasi satu arah, yaitu hanya atasan atau manager yang harus diikuti tanpa mau mendengar keluhan ataupun masalah yang dihadapi oleh bawahannya, dalam model ini, hanya berfokus pada bagaimana tujuan dari organisasi ini dapat tercapai. 2). Hubungan Manusia (1939-1959), model ini lebih menitikberatkan pada komunikasi interpersonal atau hubungan horizontal yang dibangun antara sesame karyawan atau bawahan, dalam teori ini lebih mengedepankan sisi kamanusiaan dalam melaksanakan fungsi suatu lembaga atau organisasi dalam upaya mencapai suatu tujuan. 3). Sistem (1960-sekarang) dasar teori organisasi yang ketiga ini merupakan penggabungan antara pemikiran klasik atau komunikasi satu arah dengan Hubungan manusia. Bahwa dalam mencapai suatu tujuan dalam organisasi harus mengikuti instruksi pimpinan dengan memperhatikan sisi kemanusiaan karyawan bawahannya.

Pada dasarnya, Dalam kaitannya dengan Pemikiran atau Teori Klasik ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu Setiap organisasi harus memiliki serangkaian tujuan yang jelas ke arah mana ia bergerak. Selain itu, setiap posisi atau subkelompok organisasi harus memiliki tujuan yang terkait dengan seluruh tujuan, setiap organisasi harus membentuk spesialisasi tugas, Ada dua konsep dasar yang perlu diimplifikasi di bawah prinsip ini: pembagian kerja dan tugas atau spesialisasi kerja, dalam organisasi juga harus melakukan penugasan sejenis, Prinsip ini mengasumsikan bahwa efisiensi organisasi akan dihasilkan dengan cara menugaskan seseorang dengan keahlian tertentu pada pekerjaan yg membutuhkan keterampilan tersebut, dan yang terakhir adalah koordinasi usaha, yaitu Jika sebuah kelompok bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka harus  ada seseorang mengkoordinasikan usaha kerja tersebut. Selain itu, Setiap organisasi membutuhkan seseorang di tingkat yang mengarahkan kegiatan harian organisasi tersebut, dan setiap anggota organisasi harus secara langsung dipengaruhi oleh individu tersebut.  efisiensi akan meningkat jika setiap unit dalam organisasi memiliki aktivitas tunggal untuk seperangkat aktifitas kerja yang direncanakan dan diarahkan oleh supervisor.

Selanjuta pada teori Hubungan Manusia atau Teori Perilaku menjabarkan bahwa Struktur formal memaksa orang untuk menjadi apatis terhadap pekerjaan mereka dan melakukan seminimal mungkin hal yg harus mereka lakukan. Prinsip tradisional tersebut tidak lagi mewakili inti manajemen, melainkan hanya sebuah bagian kecil dari pemikiran manajerial. Pimpinan yang menganut teori klasik organisasi membuat para pekerjanya terlalu bergantung, menjadi pasif, dan subordinat terhadap mereka. Kritik utama terhadap teori klasik adalah bahwa teori klasik lebih menekankan pada universalitas, dan tidak melihat pada kontingensi Pada tahun 1930-an reaksi terhadap kondisi mekanis dari manajemen mulai mencuat. Hal ini ditandai dengan penekanan pada hubungan manusia yang lebih baik dan penolakan hipotesis tradisional. Di dalam penelitian tersebut dikumpulkan bukti menyangkut tingkah laku pekerja, moril, kelompok kerja informal, dan hubungan sosial. Hasil akhir dari eksperimen Hawthorne, pandangan sistem sosial daripada organisasi. Pemisahan pekerja dan tujuan ekonomis semata dari teori klasik digantikan oleh pandangan bahwa orang-orang menginginkan metode penghidupan dalam hubungan sosialnya dengan orang lain dan sebuah fungsi serta nilai ekonomi untuk sebuah kelompok Lewin mengembangkan metode yang disebut "dinamika kelompok" dan menciptakan sebuah tonggak penting bagi perkembangan pemikiran manajemen yang  menunjukkan: Bahwa kelompok-mereka yang demokratis yang memungkinkan partisipasi anggota (komunikasi dua arah) dalam membuat keputusan-lebih memuaskan. Ia mengidentifikasi fungsi gatekeeping. Sebuah gatekeeper dapat digambarkan sebagai anggota kelompok yang membantu orang lain untuk menjadi terlibat (misalnya partisipasi bawahan sering tergantung pada undangan oleh atasan untuk memberikan kontribusi pemikiran).   

Pada teori yang ketiga atau teori sistem yang hingga saat ini masih dipergunakan oleh hampir semua organisasi di dunia, menjabarkan bahwa Sistem menunjukkan setiap set elemen yang saling terkait yang membentuk suatu kesatuan yang utuh atau kompleks, Namun karena sistem menurut definisi memerlukan keterkaitan antara bagian-bagian untuk membentuk keseluruhan, sistem arus informasi memberikan informasi melalui berbagai subsistem dan memerlukan mekanisme umpan balik, Scott membandingkan teori organisasi dengan teori sistem secara umum karena keduanya sama-sama mempelajari : 1). Bagian-bagian (individu) dalam keseluruhan, dan gerakan individu masuk dan keluar dari sistem. 2). Interaksi individu dengan lingkungan sistem. 3). Interaksi antara individu-individu dalam sistem. 4). Pertumbuhan dan keseimbangan permasalahan  umum di dalam sistem.

Kenneth merasa bahwa terdapat suatu kebutuhan untuk adanya sebuah kerangka sistematik untuk menggambarkan hubungan umum didalam dunia empiris, sebuah kebutuhan untuk pendekatan sistem terhadap keseluruhan fenomena ilmiah. Kenneth menetapkan 9 level dalam hirarki sistem perilaku, dan dapat disimpulkan bahwa teori sistem umum ini adalah sebuah “tujuan” Menekankan pada organisasi formal dan menegaskan variasi dari motivasi yg mungkin ada dalam organisasi menekankan pada komunikasi horizontal, di mana konsekuensinya : 1). komunikasi horizontal memungkinkan partisipasi yang lebih luas oleh anggota organisasi dalam pengambilan keputusan. 2). Memberikan beberapa penekanan terhadap kepercayaan bersama dan rasa percaya diri. 3). Meningkatkan pertumbuhan anggota organisasi. Organisasi sebagai sistem kerjasama dan meletakkan tekanan besar pada pentingnya kepemimpinan dan komunikasi.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Followers